Novel Majapahit

Berikut link tempat download novel bersetting Majapahit

  1. SH Mintardja – Kemelut di Majapahit – tamat.pdf 
  2. 068. Pelangi Di Majapahit.pdf
  3. Kemelut_Di_Majapahit_(Full_Version).txt
  4. 0035 Gajah Mada- perang bubat Oleh Langit Kresna Hariadi KBO.pdf
  5. Langit_Kresna_Hariadi_-_1._Gajah_Mada.pdf
  6. Gajah Mada.zip
  7. 1.Gajah_Mada – LangitKresnaHariadi.rar
  8. gajah mada 3.pdf

Video Dokumenter Jejak Peradaban Majapahit Bag. 1

Video Dokumenter Menembus Kotaraja Majapahit dibuat oleh Balai Arkeologi Yogyakarta. Video ini diunggah dalam youtube pada tanggal 4 Mei 2009, terpecah-pecah dalam 20 bagian.

 

Henri Maclaine Pont

H. Maclaine Pont adalah seorang insinyur Belanda yang telah memberikan kontribusi penting bagi perkembangan peradaban masa lalu bangsa Indonesia. Ia telah berupaya merekonstruksi kejayaan Majapahit melalui kajian kitab Nagarakertagama dan penelitian tinggalan arkeologis di Trowulan. Dengan kitab Nagarakertagama di tangan kiri dan cangkul di tangan kanan, ia menggali situs Trowulan. Setelah memadukannya dengan bangunan-bangunan monumental yang masih berdiri, Maclaine Pont berhasil membuat sketsa kota Majapahit di situs Trowulan. Bentang kota Majapahit digambarkan dalam bentuk jaringan jalan dan tembok keliling yang membentuk blok-blok empat persegi.

Secara makro, bentuk kota Majapahit menyerupai bentuk mandala candi, berdenah segi empat dengan bangunan penampil yang menjorok di keempat sisinya. Pada keempat sisinya terdapat gapura masuk. Letak keraton terdapat pada bagian bidang segi empat yang pada keempat sudutnya terdapat bangunan suci agama Hindu dan Buddha. Letak keraton tapat pada pertemuan garis diagonal, seperti titik sakral dalam mandala bangunan suci. Di dalam bentuk denah keseluruhan tersebut terdapat bangunan-banguan kuna yang lokasi dan nama bangunan ditafsirkan dari isi kitab Nagarakertagama.

Walaupun rekonstruksi kota Majapahit yang dilakukan Maclaine Pont bersifat hipotesis dan sebagian besar tempat-tempat kuna itu sudah tidak dapat dilacak lagi sekarang di lapangan, namun karya besar insinyur Belanda ini menjadi sumber inspirasi pada peneliti selanjutnya untuk mengungkap kebesaran kota Majapahit. Baca pos ini lebih lanjut

Sistem Pengairan Majapahit Mengatasi Banjir dan Kekeringan

Banjir dan kekeringan bergantian terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Sementara itu, pada masa Majapahit abad XIII sampai XV, air bukan lagi menjadi masalah. Manajemen dan teknologi pengairan dipikirkan secara matang untuk kepentingan Kerajaan Majapahit dan rakyatnya.

Dari masa Majapahit banyak instalasi pengairan yang tersisa. Sebagian masih digunakan masyarakat sebagai jaringan irigasi yang tidak pernah kering, seperti terowongan air bawah tanah di Dukuh Surowono, Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, kendati instalasi pengairan yang ditemukan lebih lengkap dan beragam, sebagian sudah terlupakan serta berubah wujud dan fungsi. Di Trowulan, teknologi pengairan Majapahit yang tersisa terdiri atas jaringan kanal, kolam penampung air, waduk, bak kontrol, dan saluran air bawah tanah.

Foto udara Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional mulai tahun 1973 sampai tahun 1980-an menunjukkan keberadaan jaringan kanal di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Jalur kanal yang lurus ini memanjang 4,5-5,5 kilometer dan bersilangan membentuk kisi-kisi. Lebarnya tidak kurang dari 20 meter, bahkan ketika dipetakan terakhir 40-80 meter dan kedalamannya 6-9 meter. Baca pos ini lebih lanjut

Jejak Peradaban Jalan Masuk Kota Majapahit

Ditulis oleh Nurhadi Rangkuti

Akhirnya langkah kaki sampai di Mentoro. Tempat kelahiran Emha Ainun Nadjib ini memang patut dicurigai menjadi lokasi penting dalam melacak jalan menuju kota Majapahit pada abad ke-14. Desa Mentoro di Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, ini terletak di sebelah barat laut situs bekas kota Majapahit di Trowulan, Mojokerto, dengan jarak sekitar 10 kilometer.

Pandangan langsung terpaku pada sebuah patok batu di tepi jalan desa, tepat di depan rumah keluarga Emha Ainun Nadjib. “Patok batu ini bekas tambatan perahu Majapahit,” tutur seorang penduduk.
Pada salah satu sisi patok setinggi 127 cm itu terpahat tulisan Jawa kuno yang belum terbaca. Bentuk patok pada bagian bawah berdenah segi empat, sedangkan bagian atas segi delapan. Bentuk patok ini berbeda dengan lingga semu yang juga ditemukan di Mentoro, tepatnya di Kuburan Dowo. Lingga semu berbentuk segi empat di bagian bawah dan bulat di bagian atas.

Informasi pun berkembang. Sekitar 100 meter di sebelah barat patok batu ditemukan lagi patok sejenis di tepi jalan. Menurut penduduk, dulunya patok kedua itu berada di tengah jalan desa, tetapi patok telah patah ditabrak pedati saat pengerasan jalan desa. Sebuah patok lagi dijumpai di halaman rumah penduduk sehingga sedikitnya terdapat tiga patok batu di Mentoro.

Daerah pinggiran kota

Melihat letaknya, Mentoro dahulu masuk daerah pinggiran kota Majapahit yang memiliki akses ke Sungai Brantas di bagian utara. Menurut cerita penduduk, dulu Mentoro adalah hutan belantara yang menjadi jalan penghubung antara Kerajaan Majapahit dan Kota Daha (Kadiri). Mentoro dipercaya pula sebagai tempat pesanggrahan putra-putri kerajaan pada masa itu.

Kompas (2 Mei 2005) memuat tulisan tentang batas situs kota Majapahit di Trowulan. Pada bagian timur laut, tenggara, dan barat daya dari situs bekas kota Majapahit, terdapat kompleks bangunan suci bersifat Hindu. Setiap kompleks bangunan di penjuru mata angin itu ditempatkan sebuah yoni kerajaan dengan cerat berhias rajanaga.

Kompleks bangunan suci di bagian timur laut diidentifikasi adalah situs Klinterejo (Kecamatan Sooko, Mojokerto), di tenggara situs Lebakjabung (Kecamatan Jatirejo, Mojokerto), sedangkan di bagian barat daya adalah situs Sedah (Kecamatan Mojowarno, Jombang). Jarak antara situs Klinterejo dan situs Lebakjabung di bagian selatannya adalah 11 kilometer, sedangkan jarak dari situs Lebakjabung ke situs Sedah di bagian baratnya adalah 9 kilometer. Berdasarkan jarak antarsitus tersebut diperkirakan batas situs kota Majapahit 11 x 9 kilometer, tanpa dibatasi tembok keliling.

Berdasarkan jarak itu pula, kompleks bangunan di bagian barat laut diperkirakan terdapat di wilayah Kecamatan Sumobito, Jombang, tepatnya di Dusun Tugu dan Dusun Badas (Kompas, 2 Mei 2005).
Di lokasi ini tersebar beberapa struktur bata, sebuah yoni polos, batu-batu candi, lumpang batu, dan dua patok batu, sejenis dengan patok-patok di Mentoro. Lokasi Mentoro di sebelah utara Dusun Tugu dipisahkan oleh sudetan Sungai Konto yang dibuat Belanda pada tahun 1914.

Sungai yang hilang
Apabila cerita penduduk Mentoro benar bahwa patok-patok batu itu dulunya tambatan perahu Majapahit, hal itu membuat arkeolog harus berpikir yang sama terhadap patok-patok batu di situs Tugu. Sebaran patok batu dari Mentoro ke Tugu memanjang utara-selatan, membentuk imajinasi patok-patok itu diletakkan pada kedua sisi sungai yang relatif lebar. Sungai yang memanjang utara-selatan dan bertemu dengan Sungai Brantas bila dirunut ke utara.

Imajinasi itulah yang menggerakkan penggalian arkeologis di Mentoro pada tahun 2005 oleh Balai Arkeologi Yogyakarta dengan ketua tim Nurhadi Rangkuti. Selain mencari sungai yang hilang, penggalian juga bertujuan untuk mengetahui permukiman kuno di tepi sungai.

Hasil penggalian mengubah imajinasi menjadi kenyataan. Penggalian di dekat patok batu di depan rumah keluarga Emha dipenuhi oleh pasir dan kerang sungai dan kotak gali mengeluarkan air pada kedalaman satu meter, padahal sedang musim kemarau. Beberapa kotak gali lainnya juga membuktikan hal yang sama. Beberapa penduduk pun lalu berbagi cerita, sering mendengar suara air dari bawah lantai rumah mereka.

Sisa-sisa permukiman kuno di tepi sungai juga berhasil ditemukan dalam penggalian. Sebuah tempat lebih tinggi, yang oleh penduduk disebut Kagenengan, digali dan menghasilkan lebih dari 1.500 fragmen tembikar dan keramik dari dalam tanah. Selain itu ditemukan pula mata uang logam China, fragmen besi, dan tulang serta gigi hewan jenis bovidae.

Bentuk dan kualitas benda-benda tembikar dan keramik di lokasi ini tidak berbeda dengan temuan-temuan dari situs Trowulan. Diperkirakan Kagenengan pernah dihuni oleh komunitas yang bukan dari golongan rakyat biasa, pada sekitar abad ke-13 hingga abad ke-15.

Sungai lama dan sisa permukiman kuno telah berhasil ditemukan, tetapi di antara anggota tim masih terjadi silang pendapat mengenai keberadaan patok batu. Apakah patok batu dulu memang berfungsi sebagai tambatan perahu atau sebagai tugu batas suatu wilayah atau desa pada masa Majapahit.

Sungai Brantas

Lokasi Mentoro dan Tugu memang sangat strategis jika dikaitkan dengan Sungai Brantas dan jalan masuk kota Majapahit dari arah barat laut. Kedua tempat itu menjadi titik simpul jalan darat dan sungai menuju kota Majapahit.

Hadi Sidomulyo (2005) telah mengkaji isi naskah Kidung Wargasari, yang menggambarkan rute dari Wewetih sampai ke Majapahit melalui Jirah, Bletik, Kamal Pandak, dan Sagada. Menurut Hadi, rute yang digambarkan dalam kidung tersebut dapat dilacak dari barat ke timur melalui Kabupaten Jombang.
Ia mengidentifikasi Sagada adalah Segodorejo yang terletak di Kecamatan Sumobito. Lokasi situs Segodorejo berada di sebelah timur Tugu dengan jarak sekitar satu kilometer. Di situs ini dijumpai tinggalan arkeologis berupa lumpang batu dan pecahan-pecahan bata.

Sungai Brantas memang tidak dapat dipisahkan dengan Kerajaan Majapahit. Sungai ini memiliki andil dalam mengembangkan ekonomi Majapahit, sampai-sampai Raja Hayam Wuruk pun menerbitkan sebuah prasasti berangka tahun 1358 tentang desa-desa penyeberangan dan pelabuhan sungai di sepanjang Sungai Brantas dan Bengawan Solo. Dalam prasasti itu tercatat 33 desa penyeberangan di tepi Bengawan Solo dan 44 desa di tepi Brantas.

Dengan mempertimbangkan keberadaan Mentoro dan Tugu pada masa Majapahit, perjalanan menuju kota Majapahit dari Sungai Brantas dapat direkonstruksi. Setelah melayari Sungai Brantas, kemudian perahu memasuki Sungai Watudakon terus ke selatan melewati Mentoro, Tugu, dan Badas. Selanjutnya, dari Badas menuju kota Majapahit ditempuh dengan transportasi darat melalui Sagada (Segodorejo) dan akhirnya masuk kota Majapahit yang letaknya di Trowulan sekarang.

Tentu saja ada seribu jalan menuju kota Majapahit. Salah satunya lewat Mentoro.

Sumber: http://www.kompas.com (Selasa, 14 November 2006) 1>

Raja Naga, Ikon Kota Majapahit

Ditulis oleh Nurhadi Rangkuti

Sebelum manusia lahir di muka bumi, alam semesta didiami oleh dewa-dewa yang tinggal di atas kahyangan, sedangkan daitya-daitya tinggal di bawah mewakili keburukan. Para dewa dan daitya selalu saja bertengkar.

Pada suatu ketika, para dewa mencari air kehidupan atau amerta. Sayangnya air kehidupan itu tersembunyi di dasar laut dan dijaga oleh sejumlah naga. Dewa Brahma memanggil para dewa di puncak Gunung Mahameru untuk ditugaskan mengaduk laut supaya dari pusatnya keluarlah amerta. Para daitya pun dilibatkan dalam proyek tersebut.

Konon, sebagai alat pengaduknya adalah Gunung Mandara yang diangkut para dewa ke tepi laut. Dewa Wisnu menjelma menjadi kura-kura yang sangat besar untuk alas Gunung Mandara, sedangkan Dewa Wasuki menjelma menjadi ular besar untuk membelit gunung itu. Kepala ular ditarik para daitya, sedangkan ekornya ditarik para dewa, maka berputarlah Gunung Mandara mengaduk air laut.
Singkat cerita, keluarlah Dewa Dhanwantari, tabib kahyangan dari dalam laut. Di tangannya ia membawa guci yang berisi amerta, air dambaan para dewa.
Baca pos ini lebih lanjut

Sejarah Ringkas Kerajaan Majapahit

Setelah raja Śri Kĕrtānegara gugur, kerajaan Singhasāri berada di bawah kekuasaan raja Jayakatwang dari Kadiri. Salah satu keturunan penguasa Singhasāri, yaitu Raden Wijaya, kemudian berusaha merebut kembali kekuasaan nenek moyangnya. Ia adalah keturunan Ken Angrok, raja Singhāsāri pertama dan anak dari Dyah Lěmbu Tal. Ia juga dikenal dengan nama lain, yaitu Nararyya Sanggramawijaya. Menurut sumber sejarah, Raden Wijaya sebenarnya adalah mantu Kĕrtanāgara yang masih terhitung keponakan. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa ia mengawini dua anak sang raja sekaligus, tetapi kitab Nāgarakertāgama menyebutkan bukannya dua melainkan keempat anak perempuan Kěrtanāgara dinikahinya semua. Pada waktu Jayakatwang menyerang Singhasāri, Raden Wijaya diperintahkan untuk mempertahankan ibukota di arah utara. Kekalahan yang diderita Singhasāri menyebabkan Raden Wijaya mencari perlindungan ke sebuah desa bernama Kudadu, lelah dikejar-kejar musuh dengan sisa pasukan tinggal duabelas orang. Berkat pertolongan Kepala Desa Kudadu, rombongan Raden Wijaya dapat menyeberang laut ke Madura dan di sana memperoleh perlindungan dari Aryya Wiraraja, seorang bupati di pulau ini. Berkat bantuan Aryya Wiraraja, Raden Wijaya kemudian dapat kembali ke Jawa dan diterima oleh raja Jayakatwang. Tidak lama kemudian ia diberi sebuah daerah di hutan Těrik untuk dibuka menjadi desa, dengan dalih untuk mengantisipasi serangan musuh dari arah utara sungai Brantas. Berkat bantuan Aryya Wiraraja ia kemudian mendirikan desa baru yang diberi nama Majapahit. Di desa inilah Raden Wijaya kemudian memimpin dan menghimpun kekuatan, khususnya rakyat yang loyal terhadap almarhum Kertanegara yang berasal dari daerah Daha dan Tumapel. Aryya Wiraraja sendiri menyiapkan pasukannya di Madura untuk membantu Raden Wijaya bila saatnya diperlukan. Rupaya ia pun kurang menyukai raja Jayakatwang. Baca pos ini lebih lanjut