Raja Naga, Ikon Kota Majapahit

Ditulis oleh Nurhadi Rangkuti

Sebelum manusia lahir di muka bumi, alam semesta didiami oleh dewa-dewa yang tinggal di atas kahyangan, sedangkan daitya-daitya tinggal di bawah mewakili keburukan. Para dewa dan daitya selalu saja bertengkar.

Pada suatu ketika, para dewa mencari air kehidupan atau amerta. Sayangnya air kehidupan itu tersembunyi di dasar laut dan dijaga oleh sejumlah naga. Dewa Brahma memanggil para dewa di puncak Gunung Mahameru untuk ditugaskan mengaduk laut supaya dari pusatnya keluarlah amerta. Para daitya pun dilibatkan dalam proyek tersebut.

Konon, sebagai alat pengaduknya adalah Gunung Mandara yang diangkut para dewa ke tepi laut. Dewa Wisnu menjelma menjadi kura-kura yang sangat besar untuk alas Gunung Mandara, sedangkan Dewa Wasuki menjelma menjadi ular besar untuk membelit gunung itu. Kepala ular ditarik para daitya, sedangkan ekornya ditarik para dewa, maka berputarlah Gunung Mandara mengaduk air laut.
Singkat cerita, keluarlah Dewa Dhanwantari, tabib kahyangan dari dalam laut. Di tangannya ia membawa guci yang berisi amerta, air dambaan para dewa.

Inilah ringkasan kisah Amertamanthana yang dipetik dari Kitab Mahabharata dari India. Amertamanthana menceritakan terjadinya dunia ini melalui pengadukan laut susu untuk mendapatkan amerta, air kehidupan. Ikon kota

Naga atau ular besar merupakan ikon yang sangat penting untuk menggambarkan mitologi alam semesta. Pada masa Jawa Kuno, pahatan naga sering terpahat pada tubuh yoni, miniatur bangunan candi, relief candi, dan pada bangunan candi itu sendiri. Naga yang dipahatkan itu tidak melulu tentang Amertamanthana, melainkan juga ada yang berkaitan dengan masalah kesuburan dan kepercayaan lainnya.

Naga sebagai ikon kota kuno dapat dilihat pada situs kota Angkor di Kamboja. Tata letak kota itu benar-benar replika penciptaan dunia dengan cara pengadukan laut susu.

Sebelum memasuki kota Angkor terdapat tanggul Angkor Thom. Di kanan kiri jalan-tanggul terdapat 54 raksasa yang memegang seekor naga dan posisi mereka membelakangi kota. Ketika masuk kota, yang di sebelah kiri adalah dewa-dewa kahyangan, dan di sebelah kanan dewa-dewa dunia-dunia bawah tanah.
Di tengah kota terdapat Candi Bayon sebagai gunung suci dengan pintu-pintu simetris yang berlawanan arah, timur-barat dan utara-selatan. Dewa kahyangan dari pintu selatan tampak menarik naga yang melingkar-lingkar secara simbolis di sekeliling Candi (Gunung) Bayon, untuk ditangkap pada bagian ujungnya oleh dewa-dewa neraka dari dunia-dunia bawah tanah yang terdapat di pintu utara. Demikian pula halnya antara pintu barat dan timur.

Dewa-dewa itu menarik secara bergantian, membuat Candi Bayon seperti berputar pada porosnya, simbol kegiatan mengaduk lautan kosmik, yang digambarkan dalam bentuk parit-parit air.

Situs Trowulan

Bagaimana dengan tata letak kota Majapahit di Situs Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur? Kakawin Nagarakretagama (khususnya pupuh VIII-XII) merupakan sumber tertulis yang penting untuk mengetahui gambaran kota Majapahit sekitar tahun 1350.

Kota pada masa itu bukanlah kota dalam arti kota modern, demikian pernyataan Pigeaud (1962), ahli sejarah bangsa Belanda, dalam kajiannya terhadap Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Ia menyimpulkan, Majapahit bukan kota yang dikelilingi tembok, melainkan sebuah kompleks permukiman besar yang meliputi sejumlah kompleks yang lebih kecil, satu sama lain dipisahkan oleh lapangan terbuka. Tanah-tanah lapang digunakan untuk kepentingan publik, seperti pasar dan tempat-tempat pertemuan.

Maclaine Pont (1924-1926), seorang arsitek Belanda, coba menghubungkan gambaran kota Majapahit yang tercatat dalam Nagarakretagama dengan peninggalan situs arkeologi di daerah Trowulan. Dengan kitab di tangan kiri dan cetok di tangan kanan, ia menggali Situs Trowulan. Hasilnya adalah sebuah sketsa tata kota Majapahit, setelah dipadukan dengan bangunan-bangunan purbakala yang terdapat di Situs Trowulan. Bentang kota Majapahit digambarkan dalam bentuk jaringan jalan dan tembok keliling yang membentuk blok-blok empat persegi.

Pada tahun 1981 keberadaan kanal-kanal dan waduk-waduk di Situs Trowulan semakin pasti diketahui melalui studi foto udara yang ditunjang oleh pengamatan di lapangan dengan pendugaan geoelektrik dan geomagnetik. Hasil penelitian kerja sama Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dengan Ditlinbinjarah, UGM, ITB, dan Lapan itu diketahui bahwa Situs Trowulan berada di ujung kipas aluvial vulkanik yang sangat luas, memiliki permukaan tanah yang landai dan baik sekali bagi tata guna tanah (Karina Arifin, 1983). Waduk-waduk Baureno, Kumitir, Domas, Kraton, Kedungwulan, Temon, dan kolam-kolam buatan seperti Segaran, Balong Dowo, dan Balong Bunder, yang semuanya terdapat di Situs Trowulan, letaknya dekat dengan pangkal kipas aluvial Jatirejo.

Melalui pengamatan foto udara inframerah, ternyata di Situs Trowulan dan sekitarnya terlihat adanya jalur-jalur yang berpotongan tegak lurus dengan orientasi utara-selatan dan timur-barat. Jalur-jalur yang membujur timur-barat terdiri atas 8 jalur, sedangkan jalur-jalur yang melintang utara-selatan terdiri atas 6 jalur. Selain jalur-jalur yang bersilangan tegak lurus, ditemukan pula dua jalur yang agak menyerong.

“Berdasarkan uji lapangan pada jalur-jalur dari foto udara, ternyata jalur-jalur tersebut adalah kanal-kanal, sebagian masih ditemukan tembok penguat tepi kanal dari susunan bata,” ujar Karina Arifin.
Lebar kanal-kanal berkisar 35-45 meter. Kanal yang terpendek panjangnya 146 meter, yaitu jalur yang melintang utara-selatan yang terletak di daerah Pesantren, sedangkan kanal yang terpanjang adalah kanal yang berhulu di sebelah timur di daerah Candi Tikus dan berakhir di Kali Gunting (di Dukuh Pandean) di daerah baratnya. Kanal ini panjangnya sekitar 5 kilometer.

Hal yang menarik, sebagian besar situs-situs di Trowulan dikelilingi oleh kanal-kanal yang saling berpotongan, membentuk sebuah denah segi empat yang luas, dibagi lagi oleh beberapa bidang segi empat yang lebih kecil.

Raja naga di pinggir kota

Di luar area kanal masih terdapat situs-situs hunian dan bangunan suci lainnya yang bersifat Hindu dan Buddha. Yang mencurigakan, dari situs-situs tersebut ada tiga situs yang memiliki yoni kerajaan dan penempatannya mengikuti arah mata angin. Ketiga yoni memiliki pahatan kepala raja naga dengan hiasan yang raya. Masing-masing yoni kerajaan itu berada di dalam lingkungan kompleks bangunan keagamaan yang kini telah rata dengan tanah.

Kompleks bangunan yang terdapat di bagian timur laut kota Majapahit adalah Situs Klinterejo, terletak di Kecamatan Sooko, Mojokerto. Penggalian arkeologis di situs ini memberikan garis besar tata ruang sebuah kompleks bangunan yang memanjang barat-timur. Pada bagian barat berdiri bangunan besar dengan umpak-umpak besar dan di bagian timur merupakan bangunan sakral tempat yoni itu berada.
Kompleks bangunan yang berada di bagian tenggara kota adalah Situs Lebakjabung, terletak di Kecamatan Jatirejo. Jaraknya sekitar 11 kilometer di sebelah selatan Klinterejo.

Hasil ekskavasi yang dilakukan Balai Arkeologi Yogyakarta, tahun 2002, menunjukkan adanya kompleks bangunan yang terdiri atas tiga halaman. Halaman paling barat adalah bangunan-bangunan berumpak batu, semacam bangunan balai atau pendopo, seperti halnya di Klinterejo.

Pada halaman tengah terdapat sisa-sisa bangunan bata, dan halaman bagian timur berdiri bangunan-bangunan bata, di mana yoni naga ditempatkan. Tampaknya kompleks bangunan di Lebakjabung dan Klinterejo mengingatkan kita pada kompleks bangunan pura di Bali yang memiliki pola tiga halaman: jaba, tengah, dan jero.

Kompleks bangunan yang berada di bagian barat daya kota terdapat di wilayah Kabupaten Jombang, tepatnya di Dusun Sedah, Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno. Jaraknya sekitar 9 kilometer di sebelah barat Situs Lebakjabung. Bangunannya sendiri sudah lenyap, kini telah menjadi lahan persawahan. Yang mencolok mata, di tengah sawah teronggok yoni nagaraja yang terbesar dimiliki oleh Kerajaan Majapahit.

Kompleks bangunan di bagian barat laut diperkirakan terdapat di wilayah Jombang juga, tepatnya di Dusun Tugu dan Dusun Badas, Kecamatan Sumobito. Di lokasi ini tersebar beberapa struktur bata, tetapi belum dilakukan penggalian secara intensif. Sayangnya pula, sejauh penelusuran di lapangan, tidak ditemukan yoni kerajaan berpahat nagaraja, kecuali sebuah yoni kecil polos dan sederhana, yang ditemukan di tepi jalur rel kereta api, setelah beberapa kali dipindahkan penduduk.

Ditemukannya yoni berhias nagaraja di tiga penjuru mata angin, yaitu di timur laut (Klinterejo), tenggara (Lebakjabung), dan barat daya (Sedah), serta dikaitkan dengan kanal-kanal dan kolam-kolam yang terdapat di bagian dalam kota Majapahit di Situs Trowulan, mungkinkah tata letak bekas kota Majapahit itu melambangkan kisah Amertamanthana?

Boleh jadi juga nagaraja Majapahit yang terpahat pada tubuh yoni melambangkan kesuburan Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan agraris. Umumnya yoni berpasangan dengan lingga, yang melambangkan Dewa Siwa (lingga) dan istrinya (yoni) sebagai lambang kesuburan. Raja naga seolah menjadi ikon kota Majapahit yang luasnya 11 x 9 kilometer itu.

Sumber: http://www.kompas.com (Senin, 02 Mei 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: